Perjalanan hari kedua diawali dengan sarapan di Soto Gading. One dish meal ala Solo ini, benar-benar menggiurkan dan nendang. Beragam pelengkap, seperti tempe goreng, sate ati, ati goreng, bahkan sate brutu, disajikan di atas meja, dan hangat. Di warung ini, kesibukan berlangsung merata, dari bagian dapur, hingga pelayanan konsumen. Alih-alih, kesal karena lama mengantri menunggu diladeni, aroma soto hangat justu membuat pelanggan betah menanti.

Menikmati keindahan sogan di Kauman
Setelah segelas teh tawar hangat disesap habis, perjalanan dilanjutkan ke kampung batik Kauman. Di sana, kami bertemu Bp Gunawan Setiawan, pengusaha sekaligus pemilik sebuah museum batik di Kauman.
Setelah segelas teh tawar hangat disesap habis, perjalanan dilanjutkan ke kampung batik Kauman. Di sana, kami bertemu Bp Gunawan Setiawan, pengusaha sekaligus pemilik sebuah museum batik di Kauman.

Proses pembuatan batik di Kauman nyaris sama seperti proses pembuatan batik di berbagai tempat. Namun keunikan utama dari kampung batik Kauman, adalah di sinilah para penghuni keraton Surakarta yang berdarah biru itu memesan batiknya. Perajin batik Kauman dikenal memegang teguh pakem dan simbol batik tradisional. Di sini, kita bisa melihat deretan batik Sogan yang baru selesai dikerjakan, dan sedang dikeringkan.
Selain menjelaskan tentang proses pembuatan batik Sogan, Pak Gunawan yang meneruskan usaha batik ayahnya ini menjelaskan tentang pentingnya membersihkan kain batik dari sisa malam. Menurut beliau, malam adalah magnet bagi ngengat dan perlu dibersihkan agar kain tidak rusak.
Pasar antik & pembuat kue untuk keraton
Sisa hari ini dihabiskan dengan mendatangi pusat penjualan barang antik Ngarso Puro, dan pembuat kue rumahan yang sejak tahun 20-an menyiapkan penganan sore untuk keluarga Sultan Solo. Di Ngarso Puro, kita bisa menemukan uang kuno yang saat ini dicari untuk kerokan, gembok kuno hingga kamera foto. Beberapa teman terlihat seru berburu benda antik kecil yang bisa mereka bawa pulang.
Sisa hari ini dihabiskan dengan mendatangi pusat penjualan barang antik Ngarso Puro, dan pembuat kue rumahan yang sejak tahun 20-an menyiapkan penganan sore untuk keluarga Sultan Solo. Di Ngarso Puro, kita bisa menemukan uang kuno yang saat ini dicari untuk kerokan, gembok kuno hingga kamera foto. Beberapa teman terlihat seru berburu benda antik kecil yang bisa mereka bawa pulang.

Berkejaran dengan waktu, karena malam nanti akan menonton pertunjukan wayang orang, akhirnya berhasil juga mengumpulkan seluruh rombongan dan pergi ke rumah pembuat penganan keraton. Ibu Anastacia (70 tahun) sejak berusia sangat muda, telah membantu orang tuanya membuat penganan untuk keluarga Sinuwun, demikian sapaan beliau para Sultan Surakarta. Ditemani oleh dua orang pekerja, sore itu beliau sedang menyiapkan getuk dan semar mendem pesanan keraton. Hal ini dilakukannya dengan senang hati, walaupun harus tinggal sendiri dan jauh dari anak-anaknya yang saat ini berdomisili di ibu kota.

Terkesima para wayang
Waktu tak banyak tersisa, ketika tiba saatnya kembali ke penginapan. Seluruh rombongan bergegas mempersiapkan diri untuk menonton pertunjukan wayang orang Sriwedari ini. Pertunjukan yang sebenarnya rutin berlangsung 7 kali seminggu ini – hari Senin-Jumat sekali pertunjukan pada malam hari, Sabtu dua kali pertunjukan pagi dan sore, hari Minggu libur – akan dihadiri juga oleh GPH Dipokusumo dan keluarga.
Waktu tak banyak tersisa, ketika tiba saatnya kembali ke penginapan. Seluruh rombongan bergegas mempersiapkan diri untuk menonton pertunjukan wayang orang Sriwedari ini. Pertunjukan yang sebenarnya rutin berlangsung 7 kali seminggu ini – hari Senin-Jumat sekali pertunjukan pada malam hari, Sabtu dua kali pertunjukan pagi dan sore, hari Minggu libur – akan dihadiri juga oleh GPH Dipokusumo dan keluarga.

Nyaris sebagian besar peserta tour was-was menanti pertunjukan, cemas tak paham isi percakapan yang berlangsung di pentas. Tap ternyata, tak jadi masalah. Selain dituntun oleh sinopsis yang diprojeksikan ke screen di sisi kanan panggung, sehingga kita memahami jalan ceritanya, mimik dan gerak tubuh para wayang berhasil memberikan makna. Mereka sungguh profesional di balik kesederhanaan prasarana yang dimiliki. Tak terbayangkan bahwa setiap wayang harus merias wajah dan mengenakan kostum sendiri-sendiri. Sama sekali tak ada penata rias atau stylist yang membantu mereka berpantas diri. Terlebih lagi... skenario baru mereka ketahui pada saat mereka sampai ke gedung pertunjukan. Bentuknya pun hanya sepotong penjelasan di whiteboard. Selanjutnya, bagaimana dialog berlangsung? Improvisasi... Lagi-lagi, kami bertemu para empu budaya!

Tidak ada komentar:
Posting Komentar