Selasa, 26 Juli 2011

Izinkan Aku Menciummu, Ibu

Sewaktu masih kecil, aku sering merasa dijadikan pembantu olehnya. Ia selalu menyuruhku mengerjakan tugas-tugas seperti menyapu lantai dan mengepelnya setiap pagi dan sore. Setiap hari, aku ‘dipaksa’ membantunya memasak di pagi buta sebelum ayah dan adik-adikku bangun. Bahkan sepulang sekolah, ia tak mengizinkanku bermain sebelum semua pekerjaan rumah dibereskan. Sehabis makan, aku pun harus mencucinya sendiri juga piring bekas masak dan makan yang lain. Tidak jarang aku merasa kesal dengan semua beban yang diberikannya hingga setiap kali mengerjakannya aku selalu bersungut-sungut.
Kini, setelah dewasa aku mengerti kenapa dulu ia melakukan itu semua. Karena aku juga akan menjadi seorang istri dari suamiku, ibu dari anak-anakku yang tidak akan pernah lepas dari semua pekerjaan masa kecilku dulu. Terima kasih ibu, karena engkau aku menjadi istri yang baik dari suamiku dan ibu yang dibanggakan oleh anak-anakku.
Saat pertama kali aku masuk sekolah di Taman Kanak-Kanak, ia yang mengantarku hingga masuk ke dalam kelas. Dengan sabar pula ia menunggu. Sesekali kulihat dari jendela kelas, ia masih duduk di seberang sana. Aku tak peduli dengan setumpuk pekerjaannya di rumah, dengan rasa kantuk yang menderanya, atau terik, atau hujan. Juga rasa jenuh dan bosannya menunggu. Yang penting aku senang ia menungguiku sampai bel berbunyi.
Kini, setelah aku besar, aku malah sering meninggalkannya, bermain bersama teman-teman, bepergian. Tak pernah aku menungguinya ketika ia sakit, ketika ia membutuhkan pertolonganku disaat tubuhnya melemah. Saat aku menjadi orang dewasa, aku meninggalkannya karena tuntutan rumah tangga.
Di usiaku yang menanjak remaja, aku sering merasa malu berjalan bersamanya. Pakaian dan dandanannya yang kuanggap kuno jelas tak serasi dengan penampilanku yang trendi. Bahkan seringkali aku sengaja mendahuluinya berjalan satu-dua meter didepannya agar orang tak menyangka aku sedang bersamanya.
Padahal menurut cerita orang, sejak aku kecil ibu memang tak pernah memikirkan penampilannya, ia tak pernah membeli pakaian baru, apalagi perhiasan. Ia sisihkan semua untuk membelikanku pakaian yang bagus-bagus agar aku terlihat cantik, ia pakaikan juga perhiasan di tubuhku dari sisa uang belanja bulanannya. Padahal juga aku tahu, ia yang dengan penuh kesabaran, kelembutan dan kasih sayang mengajariku berjalan. Ia mengangkat tubuhku ketika aku terjatuh, membasuh luka di kaki dan mendekapku erat-erat saat aku menangis.
Selepas SMA, ketika aku mulai memasuki dunia baruku di perguruan tinggi. Aku semakin merasa jauh berbeda dengannya. Aku yang pintar, cerdas dan berwawasan seringkali menganggap ibu sebagai orang bodoh, tak berwawasan hingga tak mengerti apa-apa. Hingga kemudian komunikasi yang berlangsung antara aku dengannya hanya sebatas permintaan uang kuliah dan segala tuntutan keperluan kampus lainnya.
Usai wisuda sarjana, baru aku mengerti, ibu yang kuanggap bodoh, tak berwawasan dan tak mengerti apa-apa itu telah melahirkan anak cerdas yang mampu meraih gelar sarjananya. Meski Ibu bukan orang berpendidikan, tapi do’a di setiap sujudnya, pengorbanan dan cintanya jauh melebihi apa yang sudah kuraih. Tanpamu Ibu, aku tak akan pernah menjadi aku yang sekarang.
Pada hari pernikahanku, ia menggandengku menuju pelaminan. Ia tunjukkan bagaimana meneguhkan hati, memantapkan langkah menuju dunia baru itu. Sesaat kupandang senyumnya begitu menyejukkan, jauh lebih indah dari keindahan senyum suamiku. Usai akad nikah, ia langsung menciumku saat aku bersimpuh di kakinya. Saat itulah aku menyadari, ia juga yang pertama kali memberikan kecupan hangatnya ketika aku terlahir ke dunia ini.
Kini setelah aku sibuk dengan urusan rumah tanggaku, aku tak pernah lagi menjenguknya atau menanyai kabarnya. Aku sangat ingin menjadi istri yang shaleh dan taat kepada suamiku hingga tak jarang aku membunuh kerinduanku pada Ibu. Sungguh, kini setelah aku mempunyai anak, aku baru tahu bahwa segala kiriman uangku setiap bulannya tak lebih berarti dibanding kehadiranku untukmu. Aku akan datang dan menciummu Ibu, meski tak sehangat cinta dan kasihmu kepadaku. (Bayu Gautama, Untuk Semua Ibu Di Seluruh Dunia)

Sumber : eramuslim.com

Kehidupan Yang Berarti




Berapa umur anda saat ini?
25 tahun, 35 tahun, 45 tahun atau bahkan 60 tahun...
Berapa lama anda telah melalui kehidupan anda?
Berapa lama lagi sisa waktu anda untuk menjalani kehidupan?
Tidak ada seorang pun yang tahu kapan kita mengakhiri hidup ini.
Matahari terbit dan kokok ayam menandakan pagi telah tiba. Waktu untuk kita
bersiap melakukan aktivitas, sebagai karyawan, sebagai pelajar, sebagai
seorang profesional, dll.
Kita memulai hari yang baru. Macetnya jalan membuat kita semakin tegang
menjalani hidup. Terlambat sampai di kantor, itu hal biasa. Pekerjaan
menumpuk, tugas dari boss yang membuat kepala pusing, sikap anak buah yang
tidak memuaskan, dan banyak
problematika pekerjaan harus kita hadapi di kantor.
Tak terasa, siang menjemput..."Waktunya istirahat..makan-makan.." Perut
lapar, membuat manusia sulit berpikir. Otak serasa buntu. Pekerjaan menjadi
semakin berat untuk
diselesaikan. Matahari sudah berada tepat diatas kepala. Panas betul hari
ini...
Akhirnya jam istirahat selesai, waktunya kembali bekerja...Perut kenyang,
bisa jadi kita bukannya semangat bekerja malah ngantuk. Aduh tapi pekerjaan
kok masih banyak yang belum selesai. Mulai lagi kita kerja, kerja dan terus
bekerja sampai akhirnya terlihat di sebelah barat...
Matahari telah tersenyum seraya mengucapkan selamat berpisah. Gelap mulai
menjemput. Lelah sekali hari ini. Sekarang jalanan macet. Kapan saya sampai
di rumah. Badan pegal sekali, dan badan rasanya lengket.
Nikmat nya air hangat saat mandi nanti. Segar segar...
Ada yang memacu kendaraan dengan cepat supaya sampai di rumah segera, dan
ada yang berlarian mengejar bis kota bergegas ingin sampai di rumah.
Dinamis sekali kehidupan ini.
Waktunya makan malam tiba. Sang istri atau mungkin Ibu kita telah menyiapkan
makanan kesukaan kita. "Ohh..ada sop ayam"
. "Wah soto daging buatan ibu memang enak sekali".
Suami memuji masakan istrinya, atau anak memuji masakan Ibunya. Itu juga kan
yang sering kita lakukan.
..Selesai makan, bersantai sambil nonton TV. Tak terasa heningnya malam
telah tiba. Lelah menjalankan aktivitas hari ini, membuat kita tidur dengan
lelap. Terlelap sampai akhirnya pagi kembali menjemput dan mulailah hari
yang baru lagi.
Kehidupan..ya seperti itu lah kehidupan di mata sebagian besar orang.
Bangun, mandi, bekerja, makan, dan tidur adalah kehidupan.
Jika pandangan kita tentang arti kehidupan sebatas itu, mungkin kita tidak
ada bedanya dengan hewan yang puas dengan bisa bernapas, makan, minum,
melakukan kegiatan rutin, tidur. Siang atau malam adalah sama.
Hanya rutinitas...sampai akhirnya maut menjemput.
Memang itu adalah kehidupan tetapi bukan kehidupan dalam arti yang luas.
Sebagai manusia jelas kita memiliki perbedaan dalam menjalankan kehidupan.
Kehidupan bukanlah sekedar rutinitas.
Kehidupan adalah kesempatan untuk kita mencurahkan potensi diri kita untuk
orang lain.
Kehidupan adalah kesempatan untuk kita berbagi suka dan duka dengan orang
yang kita sayangi.
Kehidupan adalah kesempatan untuk kita bisa mengenal orang lain.
Kehidupan adalah kesempatan untuk kita melayani setiap umat manusia.
Kehidupan adalah kesempatan untuk kita mencintai pasangan kita, orang tua
kita, saudara, serta mengasihi sesama kita.
Kehidupan adalah kesempatan untuk kita belajar dan terus belajar tentang
arti kehidupan.
Kehidupan adalah kesempatan untuk kita selalu mengucap syukur kepada Yang
Maha Kuasa ..
Kehidupan adalah ... dll.
Begitu banyak Kehidupan yang bisa kita jalani.
Berapa tahun anda telah melalui kehidupan anda ?
Berapa tahun anda telah menjalani kehidupan rutinitas anda ?
Akankah sisa waktu anda sebelum ajal menjemput hanya anda korbankan untuk
sebuah rutinitas belaka ?
Kita tidak tahu kapan ajal akan menjemput, mungkin 5 tahun lagi, mungkin 1
tahun lagi, mungkin sebulan lagi, mungkin besok, atau mungkin 1 menit lagi.
Hanya Tuhanlah yang tahu...
Pandanglah di sekeliling kita...ada segelintir orang yang membutuhkan kita.
Mereka menanti kehadiran kita. Mereka menanti dukungan kita. Orang tua,
saudara, pasangan, anak, sahabat dan sesama......
Serta Tuhan yang setia menanti ucapan syukur dari bibir kita.
Bersyukurlah padaNYA setiap saat bahwa kita masih dipercayakan untuk
menjalani kehidupan ini. Buatlah hidup ini menjadi suatu ibadah.
Selamat menjalani hidup yang lebih berkualitas.
-----------
hanifa syahida
RINA@TAKAFUL.COM

Bersabarlah dengan Kesabaran yang Baik



“Dia (Ya’qub) berkata, Sebenarnya hanya dirimu sendiri yang memandang baik urusan (yang buruk) itu. Maka (kesabaranku) adalah kesabaran yang baik. Mudah-mudahan Allah mendatangkan mereka semuanya kepadaku. Sungguh, Dialah yang Maha Mengetahui, Maha Bijaksana.” (Q.S. 12: 83)

Betapa tidak pantasnya, bagi seorang yang sering kali mengeluh, kemudian berkata-kata tentang kesabaran. Namun, ada satu sketsa yang terkenang, mengalunkan kata-kata tentang kesabaran yang pernah terdengar lembut dan sejuk. Suatu ketika, seorang pemuda yang mudah mengeluh ini, tertohok oleh nasihat seorang saudaranya. Saking tertohoknya, hingga nasihat itu seketika saja meresap dalam hatinya, sedalam-dalamnya. Saking dalamnya, hingga ketika sempat hadir pilihan dalam perjalanan pemuda ini untuk mengeluh, sejak awal kata-kata itu mengalun mengingatkannya, berulang-ulang, dalam hatinya. Dan hingga berulang-ulang pula, pemuda itu memilih untuk tidak jadi mengeluh. Jazakumullahu khairan katsiiraan, terungkap dalam senyum penuh cinta untuk saudara yang senantiasa menjaga saya dengan nasihatnya.
 Saya yang begitu menikmati sastra –sampai sering dibilang lebay, hehe, apakah sastra identik dengan lebay ya?, salahnya saya, bukan salahnya sastra-, suatu ketika dipertemukan dengan kisah yang begitu agung dalam sebaik-baik sastra yang pernah ada di muka bumi, surat Yusuf dalam al-Qur’an. Sastra yang tiada pernah ada tandingannya baik dalam keindahan maupun juga kedalaman maknanya. Begitulah, karena yang menulisnya adalah pembuat sebaik-baik skenario, Allah swt. Membacanya, saya sempat beberapa kali terhenti, mencoba memaknai lebih mendalam, ketika menjumpai pelajaran tentang kesabaran.
Dalam surat Yusuf, cerita tentang sang ayah, Ya’qub as, setidaknya telah dua kali mengajarkan saya –dan kita, antum sekalian tentu saja- tentang kesabaran yang baik. “Maka kesabaranku”, kata Ya’qub as yang diabadikan di dalamnya, “adalah kesabaran yang baik”. Ketika itu, kita dapati bagaimana kesabarannya ketika ia kehilangan putra kesayangannya, Yusuf as, yang dibuang saudara-saudaranya yang menyimpan iri dalam hatinya. Juga di lain waktu jauh sesudahnya, kita temui bagaimana kesabarannya ketika ia terus-menerus menangis dalam dukanya terhadap Yusuf as, hingga matanya tak dapat melihat dengan baik. Kemudian, seperti diceritakan darinya, tahulah kita tentang bagaimana kesabaran yang baik itu.
Kesabarannya, kesabaran yang baik, adalah dengan mengadukan kesedihan dan kesusahan hanya kepada Allah. Kesabarannya, kesabaran yang baik, adalah dengan tidak pernah berputus asa terhadap rahmat Allah. Kesabarannya, kesabaran yang baik, adalah dengan memohon pertolongan kepada Allah saja. Maka, sungguh begitu indah dan kokoh kesabaran yang baik itu. Ketika kedukaan, kesusahan, dan kesedihan, tak sempat menggantikan senyum ridhanya, dan tak sempat mengeluh dalam hati dan lakunya, kecuali hanya kepada Allah saja. …ah, mungkin, seorang yang mencoba menceritakan kembali ini, masih sangat jauh dari kesabaran itu. Hanya saja, betapa rindunya ia dan hatinya, untuk menjalani kesabaran itu, seperti kesabaran Ya’qub as, menjalani kesabaran yang baik.
Masih membekas dalam ingatan saya, kata-kata Ustadz Natsir Harits –siapa yang beliau? Kalau belum kenal, cari di google aja, hehe-. “Kita ini,” kurang lebih demikian kata beliau, “akan terus diuji.” Sejenak beliau menghela nafas. “Kalau Allah mencintai seseorang,” lanjut beliau, “maka ia akan diuji. Semakin cinta Allah padanya, akan semakin diuji. Dengan ujian itu, Allah telah menjanjikan kemuliaan baginya.” Oleh karena itu, kesabaran yang baik adalah sebaik-baik bekal, yang menjaga konsistensi kita bertahan dalam menempuh perjalanan yang dipenuhi ujian.
Maka, bersyukurlah kita, ketika ujian selalu mempertemui kita di sepanjang perjalanan. Karena Allah telah menyiapkan kemuliaan berlipat-lipat bagi mereka yang menjalaninya dengan kesabaran yang baik. Maka, bersyukurlah kita, ketika ujian selalu membersamai kita di sepanjang perjalanan. Karena mungkin saja kita sudah berada di jalur yang benar, jalan yang lurus. “Jalan yang lurus itu,” masih kata Ustadz Natsir Harits, “sebenarnya jalan yang banyak syaithan.” Yah, jalan yang lurus itu adalah jalan yang penuh ujian. “Kita perlu curiga”, canda beliau bermekar senyum, “kalau jalan kita gampang-gampang aja. Ini jalan lurus atau bukan??” Hehe.
Alangkah indah ketika kita mencerap dalam-dalam makna kesabaran yang baik dalam kontemplasi dan muhasabah –enaknya kalau baca tulisan ini pada malam hari, tambah kerasa, karena tulisan ini juga saya tulis pada malam hari, mungkin malah sudah dini hari, karena hampir jam 01:26, hehe- Sudahkan kita memaknai kata-kata Asy Syafi’i yang secara implisit disampaikan oleh Ustadz Natsir Harits tadi, bahwa di balik ujian, Allah telah menyiapkan kemuliaan. Sudahkan kita, membekali diri dalam menempuh perjalanan penuh ujian dengan kesabaran yang baik? Ukurannya, masihkan kita sering mengeluh, pernahkan kita berputus asa dariNya, atau telah lelahkan kita untuk terus memohon padaNya? …aaah, kali ini saya benar-benar ingin menohok diri saya sendiri, tanpa menunggu engkau saudaraku, karena masih jauhnya diri ini dari kesabaran yang baik.
Untuk saudaraku, yang telah meyakinkan diri menempuh jalan yang lurus, jalan berlimpah ujian. Untuk saudaraku, yang setiap kita adalah pemimpin, seperti kata Rasulullah, paling tidak pemimpin bagi diri sendiri. Dan Allah akan meminta pertanggungjawaban. Inginlah saya berbagi nasihat saudara saya yang lainnya. “Pemimpin itu,” katanya ketika meminta saya waktu itu, “harus siap menangis paling akhir.” Ketika yang lainnya menangis, ia tetap tersenyum, menguatkan yang lain bahwa harapan itu masih ada. Ketika yang lainnya menangis, ia mengajak untuk kembali tersenyum, tidak mengeluh, dan tidak berputus asa. Dan ketika ia akhirnya menangis, adalah di tempat yang paling tersembunyi di mana tak seorang pun melihatnya. Di sana ia menangis lebih dalam, setelah menahan kesakitan dan kesedihan di hadapan manusia, hanya kepada Allah saja. Hanya kepada Allah saja. Begitulah, kesabaran yang baik yang harus dimiliki setiap kita, seorang pemimpin. Kesabaran yang masih begitu jauh dari saya, menjadikan kerinduan yang ada tak pernah berbatas dalam saya…

“Sebab, pohon kebesaran suatu ummat hanya dapat tumbuh di taman sejarah yang disirami air mata kesedihan dan darah pengorbanan.” (M. Anis Matta)

Untuk saudaraku. Kita yang senantiasa merindukan kebesaran ummat. Jangan pernah mengeluh dan berputus asa ketika dipaksa untuk bersedih dan diminta untuk berkorban. Karena demikianlah tabiat jalan kita, yang membawa pada resapan hati tak berbatas. Maka berteriaklah lantang mulai dari dalam memenangkan hati, seperti kata-kata Ya’qub yang mengabadi dalam al-Qur’an, “Fashobrun jamiilun…” Maka kesabaranku adalah kesabaran yang baik… Insya Allah. []


Kontemplasi, menasihati diri sendiri, yang saat ini mulai dipertemukan dengan sekian banyak pilihan untuk mengeluh dan berputus asa.